Gerakan mahasiswa saat menumbangkan rezim Soeharto telah menjadi catatan sejarah bangsa, bahkan dunia. Menjadi catatan sejarah bangsa, karena ini merupakan akhir dari kekuasaan pemerintah Orde Baru yang telah membumikan sistem dengan segala aspek baik positif maupun negatifnya.
Bernilai positif, karena pada era Orde Baru indoesia pernah digolongkan kepada negara yang sedang berkembang, bahkan pada tahun 1966, negara Indonesia diramalkan akan mengikuti negara macan Asia seperti; Singapura, Malaysia, Thailand, Korea Selatan dan Jepang.
Bernilai negatif, karena dengan makin membengkaknya utang Indonesia, baik utang pemerintah maupun swasta yang periode jatuh temponya sudah sampai, sehingga kebutuhan terhadap US dollar sebagai alat pelunasan utang menjadi tinggi. Akhirnya terjadilah krisis moneter yang diikuti dengan krisis kepercayaan terhadap pemerintah yang berakibat jatuhnya rezim Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998.
Permasalahannya bagi mahasiswa, sebagai pelopor gerakan reformasi adalah model gerakan bagaimana yang mesti dikembangkan pada saat ini, terutama dalam meyongsong pemerintahan baru yang dipimpin oleh KHAbdurrahman Wahid.
Format gerakan
Pada era reformasi bahkan sebelum Indonesia merdeka, ada berbagai bentuk gerakan yang dilakukan mahasiswa. Pertama, gerakan aksi massa. Bentuk gerekan ini bersifat massive, yakni melibatkan orang banyak, seperti : demonstrasi mahasiswa pada 21 Mei 1998, aksi angkatan 1966, dll. Pada bentuk gerakan in ada beberapa prasyarat yag harus dipenuhi, antara lain : setiap personal mempunyai kepentingan yasng relatif sama, bersifat gerakan moral, dan terkait degan kepentingan masyarakat. Disamping itu, gerakan aksi massa harus dilakukan secara terkoordinir. Jika ini tidak dilakukan maka besar kemungkinan misi gerakan akan ditunggangi oleh pihak ketiga, yang ‘menangguk untung di air keruh’ untuk kepentingan pribadi atau segelintir orang.
Kedua, gerakan intelektual. Bentuk gerakan ini bisa bersifat personal atau kolektif. Esensi gerakan ini adalah melakukan pembudayaan melalui wacana dan dipandang lebih arif. Bentukgerakan seperti lebih pas dilakukan oleh para cendikiawan, akomodasi dan paramahasiswa guna menuju proses menjadi seorang cendikiawan sejati.
Tetapi dalam konteks real, bentuk gerakan ini hanya efektif untuk sasaran kelas menengah ke atas. Gerakan intelektual ini tidak akan bermakna, ketika suara kerifan, suara moralitas tidak mendapatkan tempat. Ketika para pengamat melontarka kritikan pedas kepada pemerintah dengan tujuan memberi peringatan, pelurusan dan korektif terhdap kesalahan gerak dan langkahnya, terkadang ini dicap sebagai anti kemapanan. Sehingga di era Orde Baru bentuk gerakan ini tidak mendapatkan tempat dan respon dari penguasa.
Namun gerakan intelektual akan menjadi bermakna ketika khazanah pemikiran itu coba dihayati oleh para mahasiswa yangt masih hijau, suci, steril dari kepentingan partisan. Buahnya adalah sebuah gerakan mahasiswa yang mampu mendobrak dinding pertahanan Orde Baru, 21 Mei 1998.
Gerakan Alternatif
Menyongsong pemerintah baru di tahun 1999 ini, para mahasiswa mesti menghidupkan gerakan alternatif. Apa danbagaimana ? Pertama, derakan melalui lembaga swadaya masyarakat (LSM). Di dalam gerakan ini sekat-sekat antara mahasiswa tidakboleh terjadi.
Lemahnya gerakan mahasiswa disebabkan karena terjadinya konflik internal yang tidak terselesaikan. Padahal, bila kita memahami esensinya, konflik bisa bernilai positif yaitu mempercepat proses dinamika mahasiswa. Disisi lain, dari penyebab konflik yang terjadi merupakan sebagai akibat dari masih melekatkan sikap arogansi dan lemahnya kebersamaan untuk maju. Untuk itu, perlu kita sadari bahwa keberhasilan kita tidak dilihat pada keberhasilan yang diperoleh hariini, namun 10,15 atau 20 tahun ke depan. Tetapi secara prosesnya, keberhasilan ke depan ditentikan juga oleh kemampuan kita untuk merebut dan mencetak prestasi hari ini.
Oleh karenanya, kebersamaan kitalah yang utama sehingga semua mahasiswa dapat mengukir kemajuanya baik untuk diri maupun masyarakat. Di dalam gerakan LSM ini, kematangan mental dan ideologi menjadi tuntutan utama, sehingga program dan aktivitas yang dilakukan itu merupakan kehendak hati nurani untuk memajukan diri dan masyarakat. Kedua, gerakan penatan profesi. Bukan hal yang aneh ketika menjadi mahasiswa seseorang mempunyai sikap idealisme yang tinggi. Tetapi ketika sudah masuk pada dunia profesi dan bisnis, idealismenya menjadi luntur dan terkubur. Untuk itulah, perlunya saling kontrol antara sesama rekan mahasiswa untuk selalu concern dengan menuju cita-cita masyarakat baru, yakni masyarkat madani (civil society) yang merupakan masyarakat yang jujur,demokratis, berwibawa dan maju. Demgam demikian pemilihan medan pengabdian profesi mestilah di-desain sejak dini, dengan diiringi persiapan dan p\kematangan mentalitas, intelektualitas dan profesionalitas. E-mail efrisb@yahoo.com
DIarsipkan di bawah: Uncategorized